Memberi Isyarat

lotus via pixabay

Di ranting kubiasa tautkan isyarat rindu
Dibawa burung yang nyanyikan dendang kalbu
Bayu membisikkan alunan jiwa
Teruntuk cinta yang duduk di beranda
Membaca rasa
Seperti saat ini
Kau pelita ‎
Ilmu sukma
Untuk bahagia

November, 2019 🌸

Para Pengikat Kata

Alkisah ada sebuah negeri yang belum tercatat dalam ingatan banyak orang. Disana tinggal para warga yang memiliki beragam profesi, usia dan latar belakang. Mereka bergabung, saling berkomunikasi, mengenal dan berinteraksi sebagaimana sebuah keluarga. Jumlah warganya tidak banyak. Belum. Dan mereka dijuluki sebagai Pengikat Kata. Kenapa? Karena masing-masing diantara mereka, termasuk komitmen bersamanya di negeri tersebut dalam menulis, ingin mendedikasikan dirinya melalui kata/ tulisan.

Adalah hobi, pengisi waktu, panggilan jiwa, target dan kesenangan, serta kebermanfaatan, termasuk jalan ninja yang menjadi moto penggerak negeri Para Pengikat Kata. Meski tak bersatu secara riil, para warga tetaplah keluarga yang saling mendukung dan menyemangati. Dengan ketelatenan, kesabaran dan tentu saja kebahagiaan, negeri ini diharapkan akan terus mengada dalam kebaikan dan mengayomi para warganya yang butuh kehangatan serta pelukan kekasih.

Selamat datang. Silakan bergabung di negeri tersebut. Kalian tak perlu paspor atau visa apalagi perpeloncoan untuk menjadi warga Para Pengikat Kata. Cukup dengan senyum lebar dan ucapkan halo seceria mungkin, mereka pasti menyambut.

Klik ini kalau mau bergabung.


Sebelumnya saya sempat baca postingan MasHP di blognya soal keresahan tentang grup Obrolin yang makin menghilang di peredaran maya. Iyasih, saya juga sempat keluar karena satu-dua hal di dunia nyata menyita perhatian. Pertemanan yang intens di grup membikin kami kangen saat lama tak berkabar. Dan setelah gagasan MasHP tersebut, eehh ada grup anyar bernama Ikatan Kata. Saya senang sekali dan langsung bergabung. Grup ini diprakarsai oleh Mas Fahmi. Terima kasih sudah diizinkan bergabung. 

Mudah-mudahan bisa istikomah dan bersemangat menulis kembali. Teman menulis memang mood booster terbaik. Dengan perasaan happy tanpa beban atau keharusan-keharusan pencapaian, yuk bergembira ria di Ikatan Kata. Mue he he he… <(‾︶‾)><(‾︶‾)>(〜^∇^)〜

Ikatan Kata

Mengadu

Ingin kukecup kau, bibirmu
yang menggelora, beradu dengan bibirku yang kalah oleh rencana-rencana waktu

Ingin kudekap kau, tubuhmu
yang telah setia menampung serpih
isi kepalaku (ia berceceran diserang dusta) di relung rindu 

Langkah ini menua, bersama asap yang membubung menyelimuti kota
Saat hatiku terbakar oleh entah sebab apa
Aku hanya ingin sekali saja
Bercinta dengan kekasihku
Dirimu
Yang rupanya memanggil di lirih kalbu

Oktober, 2019 🍃

Novel yang Sungguh Anjing

Raden Mandasia dan bebek kerupuk pedas

Watugunung memang bajingan dan musuhku, tapi tetap saja ia seorang raja, dan seorang penguasa jelas berbeda dari tukang timba air atau pemungut pajak tanah karena ia punya keagungan yang tak bisa kaubeli.


Judul : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Penulis : Yusi Avianto Paraenom
Penerbit : Banana
Cetakan : kedua, edisi ketiga, September 2018
Halaman : 470 hlm
ISBN : 978-979-1079-52-5


Saya termasuk telat membaca karya hebat Paman Yusi yang rupanya telah bernyanyi sejak tahun 2016 silam. Omong dari omong, sebab mantra pemikat bahasanya, yang konon pantang memakai kata serapan asing, novel-dongeng ini meraih kejayaannya. Dia dinobatkan sebagai prosa terbaik kusala sastra khatulistiwa 2016 dan tentu saja menemukan penggemarnya sendiri, termasuk saya.

Sesungguhnya tiada anjing yang lebih anjing daripada novel besutan Paman Yusi ini. Maaf, saya keenakan meniru passion Sungu Lembu dalam mengumpat. Untuk urusan kisah, Raden Mandasia sendiri rupanya ‘hanya’ mencampuradukkan berbagai khazanah cerita. Seperti kisah Sangkuriang (Watugunung menikahi Dewi Sinta, ibunya sendiri), kisah ditelannya nabi Yunus oleh paus (penumpang kapal yang terjun ke kerongkongan paus saat Mandasia & Sungu Lembu berlayar), kisah perseteruan antar kerajaan nusantara (Gilingwesi dan Banjaran Waru, lalu Gilingwesi yang menyerbu Gerbang Agung), kisah 1001 malam (para darwis, Putri Tabassum, petualangan gurun pasir dan setting daerah Jazirah ala Sinbad), bahkan tak jarang beberapa unsur cerita memparodikan sesuatu yang ada di dunia nyata. Seperti Don Quixote yang disebut sebagai ksatria edan. Sungguh usaha yang luar biasa dari Paman Yusi. Cerita yang sedemikian ramai, berkumpul menjadi satu universe Mandasia yang utuh.

Selain kisah, hal yang begitu memikat hati dari Raden Mandasia adalah gaya bertutur Paman Yusi yang mengalir seru. Meski berseting masa lampau dan termasuk cerita kolosal, Raden Mandasia tak kurang menariknya hanya gara-gara bahasa yang serba terbatas. Justru Paman Yusi memperkenalkan kita dengan banyak kosakata baru yang tak terjamah percakapan sehari-hari. Seperti mendusin, cindai, lanun, wandu, sida-sida, dan masih banyak lagi. Suara orang pertama yang dimanfaatkan Paman Yusi, Sungu Lembu, dengan umpatan-umpatan khasnya sungguh menggelikan. Sampai-sampai tak ada satu paragraf pun yang tega saya lewatkan. Semua tuntas terbaca karena kalimat demi kalimat terjaga baik kemaknaan dan perasaannya.

Tak heran, Paman Yusi sendiri pernah bekerja sebagai seorang wartawan dan daya tandingnya dalam berfiksi pun tak bisa diremehkan. Untuk menghilangkan kesan ngibul dalam berbahasa, beliau merisetnya secara sungguh-sungguh. Bahkan untuk adegan pelayaran heroik Sungu Lembu x Raden Mandasia x Loki Tua, Paman Yusi sampai ikut berlayar dan merasakan sendiri bagaimana pengalaman itu bekerja dalam tubuhnya. ((Apasih? 😅)) 

Alhasil, deskripsi menyangkut segala sesuatu dalam novel terlihat sungguh nyata. Bilkhusus soal pelayaran : bagaimana membuat kapal cadik, bagaimana memilih kayu, bagaimana pengerjaan awal secara detailnya, bagaimana menggabungkan rangka tanpa perekat, bagaimana memasang/ menggulung layar, menata arah dengan bantuan bintang, memperkirakan badai serta mengatasi badai; semua tuntas terbahas lewat tuturan Sungu Lembu bak 3 SKS kuliah teknik pelayaran tradisional. Luar biasa. Saya sendiri seolah ikut dalam perjalanan Mandasia dan Sungu Lembu mengarungi samudera. 😍 Nenek moyangku seorang pelaut ♬♬

sapi-sapi yang menggoda iman raden mandasia

Saya pikir Raden Mandasia akan banyak mengisahkan sosok bernama Mandasia yang hobi mencuri daging sapi itu. Bagaimana ia tumbuh dengan neurotis dan akhirnya terlibat petualangan heroik yang membuatnya jadi pahlawan. Rupanya tidak. Di novel ini, yang lebih banyak cincong adalah Sungu Lembu, kekasih teman seperjalanan Raden Mandasia.

Sungu Lembu adalah salah satu anak bangsawan bekas kerajaan Banjaran Waru. Ia diasuh oleh keluarga Banyak Wetan karena keistimewaannya sekaligus menghindari bapaknya yang malas ia anggap bapak. Sungu Lembu tumbuh menjadi sosok pemuda yang cerdas karena ragam pengajaran yang dijejalkan Banyak Wetan, ia juga pandai bela diri, termasuk kemampuan unik mengenali rasa dan racun. Dan betapa baik hatinya Paman Yusi kepada pembaca perempuan karena Sungu Lembu rupanya tergambar sebagai pemuda bertampang rupawan. Sedikit kalah dengan Mandasia. 😳😳 Aduhai. Mari kita ber-fangirling bersama.

Sungu Lembu menaruh dendam kesumat pada Watugunung, penguasa kerajaan Gilingwesi, karena dia dan pasukanya menduduki Banjaran Waru. Ibunya terenggut oleh kebiadaban pasukan Gilingwesi, berikut sebagian besar rakyatnya dipaksa tunduk juga dipandang rendah. Gerakan perlawanan bawah tanah tumbuh bernama Alap-alap Merah. Sungu bercita-cita menjadi angootanya kelak dan mengusir Gilingwesi dari tanah Banjaran Waru.

Di sisi lain Mandasia punya misi besar ingin menyelamatkan Gilingwesi dari peperangan besar. Dia berencana menemui Putri Tabassum, yang konon sangat cantik sampai-sampai  cermin retak saat menampung wajahnya, untuk dipersuntingkan dengan Watugunung agar perang tak pecah. Usahanya ini mempertemukan ia dengan Sungu di rumah dadu Nyai Manggis. Dari sanalah takdir mereka mulai tepilin. Sungu menggunakan Mandasia untuk mendekati Watugunung, sementara Mandasia, tanpa tahu pasti motif Sungu Lembu, tapi pastinya dia tahu wong dia pangeran cerdas (dan juga ganteng, pinter masak melebihi chef Juna) bersama-sama melakukan perjalanan ke Barat, ke negeri jauh bernama Gerbang Agung.

Lantas, apa kaitan daging sapi yang dicuri Mandasia dengan cerita perang ini? Sepertinya itu memang pemanis saja. Semacam Paman Yusi menciptakan ketertarikan awal pada dirinya sendiri, mungkin, karena Raden Mandasia awalnya hanya ditulis sebagai selingan, untuk mengalirkan bakat berkisahnya. Dan, juga dipakai olehnya memikat pembaca untuk mencari tahu mengapa Mandasia tergila-gila dengan daging sapi curian padahal ia seorang pangeran. Dari perihal daging sapi ini, kita disuguhkan berbagai macam deskripsi hidangan nan menggiurkan sampai terasa ke lidah-lidah. 😁😁

Satu hal yang sangat saya sukai sekaligus terlalu anjing untuk tidak dirasakan apa-apanya adalah akhir peperangan Gilingwesi melawan Gerbang Agung. Perasaan saya tak enak dibuatnya. Ribuan mayat berterbangan, kota mencekam dan nyaris mati. Dan pertemuan Watugunung dengam Sungu untuk yang terakhir kalinya sungguh mendebarkan hati saya. Bocah itu galau, menimbang kembali kesumatnya sebab melihat langsung kepemimpinan, ketangguhan dan kegigihan Raja Gilingwesi yang secara buta mata Sungu dendamkan.

Usai membaca Raden Mandasia saya jadi penasaran dengan karya Paman Yusi lainnya, yang rupanya telah terbit lebih dulu. Sepertinya Raden Mandasia bakal jadi novel terbaik yang pernah saya baca. Saya sempat berharap adegan kasurnya yang tak usah terlalu berceceran seperti dalam novel-novel Eka Kurniawan. Cukup setali dua tali kutang saja. Dan benar. Pergumulan Sungu dengan Nyai Manggis terekam apik namum tak terkesan umbar-umbar. Bagus. Namun prasangka Sungu pada Raden Langkir, kakak kembar Mandasia, sebagai tukang penyemburit boleh juga. Tapi sayang hanya secuil upil adegan saja yang ditampilkan dan sukses bikin saya pingin banting buku. 😂😂

Boleh dibilang banyak hal menjengkelkan di tahun 2019 ini. Tapi, akhirnya saya bisa bersukacita setelah membaca petualangan Raden Mandasia dan kawan seperkisahannya, Sungu Lembu. Terimakasih kepada Paman Yusi Avianto Paraenom, sang pujangga kerajaan kontemporer, yang dengan anjing hebatnya telah menggubah babad tanah jawi coret ini.

Membaca Konvensi

konvensi dibaca sekali duduk via kamera pribadi

Cukuplah kematian  sebagai pemberi nasihat. Orang yang tidak mempan dinasihati oleh kematian, jangan harapkan mempan dinasihati oleh lainnya. Orang yang selalu ingat bahwa dia akan mati, akan bersikap hati-hati. Sebaliknya mereka yang sembrono, yang sombong, yang jahat kepada sesama, biasanya adalah orang-orang yang lupa bahwa mereka akan mati. (Kiai Luqni) 

Apa sih yang dicari dalam hidup yang singkat ini? Makan kan cukup sepiring dua. Pakaian asal menutup aura. Rumah sekadar menjaga tidak kehujanan dan kepanasan. Saya bersyukur, dengan anugerah bisa memijat yang cuma begini ini, saya dan anak-anak tidak telanjang, tidak kelaparan, punya rumah tempat kembali berkumpul keluarga. Mau apa lagi? Yang penting kan kehidupan kekal kita kelak. Bukan begitu, Pak? (Mr. Quney) 


Judul : Konvensi
Penulis : A. Mustofa Bisri
Penerbit : Diva Press
Cetakan : pertama, November 2018
Halaman : 132 hlm
ISBN : 978-602-391-634-4


Sebelumnya saya mengenal A. Mustofa Bisri alias Gus Mus melalui cerpennya saat saya iseng baca-baca kumcer berjudul Lukisan Kaligrafi di perpustakaan. Karena iseng, jadi saya baca sambil lalu saja. Tak terlalu membekas sepatah gagasan pun kecuali kesan saya yang ‘Ooo, bagus ceritanya, gaya spiritual.’ saja. Tapi, setelah beberapa lama dan mungkin sedang masa-masa banyak melahap-meresapi wacana berbau tasawuf, saya jadi suka Gus Mus. Cerpen-cerpennya berikut puisi-puisinya. Gaya karya fiksi beliau kan menyentil batin, menowel-nowel kepekaan rasa alias membawa gagasan spiritual. Aduhai syahdu dalam dada. 😘

Dan Konvensi ini salah satu buku Gus Mus yang kemudian saya baca. Berisi 15 biji cerita pendek yang pesan utamanya adalah nasihat kebaikan. Namun, jangan salah. Nasihat dalam Konvensi tentu dibungkus dengan kisah yang apik, terkemas secara menyenangkan dan tak lupa juga terselip pita humor yang bikin gemas.

Dibuka dengan cerita Syabakhroni dan Kawan-kawan. Gus Mus menampilkan kehidupan para demit dan menunjukkan beberapa penggambaran trik mereka menggoda manusia. Lucu sekali. Kita seolah sedang menertawakan mereka, tapi di sisi lain sedang dinasihati. Ada juga beberapa judul cerpen lagi seperti Suami, Hilangnya Perangkat Desa, dan Di Jakarta yang lucu sekaligus mengandung nasihat halus.

Berbeda dengan beberapa kisah lainnya yang agak dramatis dan mengguggah emosi seperti Perempuan yang Selalu Mengelus Dadaku dan Nasihat Kiai Luqni. Gus Mus secara apik merangkai kedalaman rasa tokohnya dan sukses membuat pembaca terhanyut. 😊

Ada banyak cerita lainnya yang juga tak kalah seru. Seperti bicara soal mitos, soal politik dan kehidupan rumah tangga. Gus Mus seolah memberi daya pada tiap tokohnya untuk menjelma dan mengisahkan dirinya secara riil, sederhana namun berisi, juga dengan sudut pandang yang rapi dan signifikan.

Aneka konflik batin dalam tiap cerita pendek ini selain menghibur kita sebagai pembaca, juga sebagai cermin untuk melihat diri sendiri. Nasihat ala kiai yang biasa disampaikan melalui ceramah melebur bersama pengisahan menarik para tokoh dan tentunya bikin kita cengar-cengir kesindir.

Sebenarnya tak puas rasanya hanya membaca 15 cerpen dalam Konvensi. Rasanya ingin membaca lagi, ‘dinasihati’ lagi, ‘diingatkan’ lagi, dan ‘dimomong’ lagi oleh olah fiksi Gus Mus yang asyik dan menyejukkan batin itu.

High recommended deh untuk kalian penyuka kisah berbau spiritual. Siapa yang suka Cak Nun, kemungkinan besar juga suka karya Gus Mus. Ayoo siapa yang gemar membaca buku beliau-beliau tersebut? Cung! Kita samaan.

Nah, selamat membaca. Selamat ketawa bercampur kesindir. Konvensi lebih dari ‘sekadar mengingatkan’ ala ukhti-ukhti hijrah. 😝

Perjamuan Mawar

Dalam dadaku yang sakit
setiap hari
tisu-tisu berterbangan
berakhir seperti cinta-cinta tak bertuhan
Di rimbun kepalaku
yang dibakar perkabungan
tanah kehidupan
nyaris asap yang membunuh sisa pengertian
Sunyi
Tak berkawan sebab ramai perseteruan
Langit terbentang
seperti karpet yang senantiasa
menyambut tuan pesta
Meja mempertemukan kita
bersama gejala perut tanpa makanan penutup
Dalam vas yang kaku
setangkai mawar menyimpan
ingatan
mengenai pertumbuhan yang terhenti akibat waktu terlalu lama berputar
tanpa jalan keluar
meraba konsep-konsep perpisahan
namun dusta mendahului rasa
dan dadaku sesak
oleh suara-suara tanpa wujud
yang hadir dalam perjamuan dalam bentuk harum mawar

30 September 2019 🌹🌹

Malaikat Turun dari Langit

malaikat kecil via pinterest

Ada malaikat turun dari langit. Dia melipat sayapnya perlahan, lalu mendarat di tanah secara hati-hati sekali. Dimulai dari jempol dan telunjuk kaki kanannya, nyaris slow motion, lalu pelan-pelan dia berdiri ajeg sebagaimana manusia normal menapak bumi.

Malaikat turun dari langit. Ini masih pukul 5 sore lebih sedikit. Aku baru saja pulang dari kantor dan kebetulan memotong jalan ke gang sepi samping indomaret hingga tembus ke daerah perumahan baru. Disana ada tanah lapang yang dipagari seng berspanduk penolakan pembangunan tertanda masyarakat paguyuban. Di samping pagar seng ada jajaran toko ikan yang sudah tutup.

Melihat malaikat turun dari langit, lantas kutepikan sepeda untuk dapat memandangi sosok cantiknya lebih lama lagi. Benar-benar luar biasa. Seperti malaikat. Maksudku, dia malaikat yang sangat jelita.

Dia menatapku. Mungkin sadar kalau sedari tadi kuperhatikan. Salah sendiri turun di area lintasku. Tanpa rasa gentar, terus saja kutatap manik mata bening itu. Dia mendekat. Berjalan gemulai dengan selendangnya berkibas seperti tentakel ubur-ubur. Tidak bohong! Itu memang selendang yang aneh.

Malaikat turun dari langit. Sudah beberapa menit dia berdiri tepat di depanku. Menatap sayu, dengan senyum simpul yang membeku. Tapi,  masih sangat ayu dan … rupanya dia tidak wangi. Kukira malaikat berbau wangi.

“Maaf. Permisi. Hai. Ng, maaf.” Mata bening sang malaikat malah mengacaukan kata-kata yang hendak kuucapkan.

Aku menggeleng pelan, membuang rasa was-was yang tiba-tiba mampir. Malaikat secantik dia pasti bukan pertanda sial. Jadi, tak usahlah membikin jantung berdebar seperti habis keserempet mobil truk. Malaikat itu tidak berbahaya!

Coba lihat, pakaianya putih berseri, mirip kilauan gambar editan di iklan-iklan deterjen. Tak terlalu jelas apa dia memakai gaun atau kebaya. Yang jelas, ujung selendang itu berkibar sendiri tanpa perlu angin.

“Ng… sudah mau magrib. Permisi.”

Baru ingat pula aku. Sandekala menjelang. Jangan-jangan tanah lapang sepi ini dijadikan gerbang gaib oleh makhluk-makhluk kasatmata. Hiii…. Kalau malaikat itu ternyata siluman yang menyamar untuk menculik orang bagaimana? Tapi ah, kecantikan sang malaikat sepertinya terlalu menyilaukan. Jin sakti mana yang bisa menyamarkan kebusukannya dengan cahaya seri sosok malaikat ini.

Baik. Mungkin kuabaikan saja dia. Toh dia tak bicara. Bahkan tak mengedip atau merespon sedikit pun.

“Dadah,” ucapku pelan sambil menaiki sepeda dan berlalu pergi.

Esok hari, aku mengambil libur 4 hari. Sudah dua bulan aku bekerja banting tulang. Terakhir kemarin acara tutup buku, ehh tak disangka pemilik perusahaan datang dan memberi briefing kami hingga senja datang. Setelah basa-basi paska pertemuan itu, dengam alasan magrib, akhirnya aku pulang. Sementara yang lain melanjutkan perbincangan, mungkin  sebagian ada yang sadar waktu salat, mungkin sebagian juga ada yang melewatkannya begitu saja. (Setahuku Pak Surya, bos besar kami, bukan sosok yang religius)

Selama 4 hari aku tak pernah kemana-mana kecuali merokok, pipis, mandi, pup dan beli makanan di warteg terdekat. Entah kenapa rasanya malas sekali beraktivitas di luar ruangan. Padahal kali ini gajiku tak kena potongan akibat kasbon. Harusnya aku senang. Tapi, entahlah. Tak punya kawan main dan berbagi rasa, sunyi dan sepi saja yang ada.

Satu-dua buku novel kulahap dalam satu hari. Langsung habis seperti menandaskan segelas susu coklat dingin. Esoknya, aku membaca lagi novel yang lebih tebal dan malamnya kubuka kembali buku-buku yang berbicara soal investasi dan pembangunan. Kutandai banyak gagasan dengan highlight warna serupa kover buku dan kusaring itu hingga mendapat satu peryataan yang akhirnya ku-posting sebagai status media sosial.

Begitu saja 4 hari itu kulewatkan dengan membaca dan ngemil. Sesekali aku belanja daring, sesekali bicara dengan dua pot lidah mertua dan di kesempatan yang sangat jarang kemarin, kucing orens tetangga tidur di dekat jendelaku dan akhirnya kubopong dia ke pangkuan. Sedikit berontak, tapi dengan kekuatan mengelusku, dia kembali menguap dan nyenyak senyenyak-nyenyaknya.

Aku hampir lupa soal sang malaikat. Si cantik itu bagaimana kabarnya? Esok hari ketika berangkat kerja, aku sengaja mengambil jalan yang sama dengan arah pulang. Bukan agar lebih cepat sampai kantor meski harus melewati aspal gruduk, melainkan demi malaikat itu.

Dan kagetnya aku rupanya dia masih di sana. Berdiri di tempat yang sama dan memasang wajah yang sama. Saking terkejutnya, aku langsung menghampiri  dan menyapanya. “Kenapa masih di sini?”

Malaikat cantik tersenyum. Tersenyum!! Itu respon pertamanya sejak terakhir kulihat dia hanya mematung. Kenapa baru sekarang?

“Ada yang bisa kubantu?”

Malaikat mengulurkan tangannya dengan senyum manis yang sama. Dan setelah kupertimbangkan, mungkin, mungkin sekali, dia mengajakku salim. Entah dalam rangka kenalan atau gesture bersahabat saja.

“Ngerti bahasaku?”

Malaikat berdehem. Kelembutan suaranya membuat jantungku tersentak lalu bergemuruh ria seperti habis kena tebak gebetan. Luar biasa. Suara yang sangat indah dan menyenangkan.

“Apa kamu hanya bisa dilihat olehku?”

Malaikat bergeming.

Karena responnya yang singkat dan sulit dimengerti, akhirnya aku kembali meninggalkan dia. Bagaimana pun, aku harus kerja. Kalau sampai telat aku bisa kena malu. Melihatku beranjak mengayuh sepeda, sang malaikat berbalik badan. Mungkin sekarang dia sedang menyaksikan kepergianku.

“Eh ada malaikat di dekat gang Sumurbendung lho,” candaku pada Mas Budi, rekanku di kantor begitu tiba di kubikel.

Tapi dia tak merespon. Malah mengangguk-angguk statis seperti maneki neko. Apa coba maksudnya? Ahh… pantas saja, kupingnya disumpel handsfree. Pagi-pagi begini sudah ada saja customer yang telpon. Dasar.

Akhirnya kuurungkan niatku bercerita karena aku pun mulai sibuk dengam customer-ku sendiri. Telpon, telpon dan telpon. Itulah moto kami. Aku memang seorang telemarketing sebuah perusahaan obat herbal. Telponlah banyak-banyak dan bikin orang itu membeli produk kami. Sederhana dan mudah dimengerti.

Sore hari aku pulang. Kembali kuingat sang malaikat. Si cantik jelita yang tak kunjung bicara dan mematung d tempat saja kerjanya. Dia menoleh begitu aku mendekat. Senyumnya merekah. Dan tentu saja kubalas itu dengan senyum lebih lebar.

“Menungguku?”

Malaikat mengangguk.

Mengangguk!!! Dia mengerti ucapanku!

“He-hey, bagaimana kalau ikut dengaku ke rumah. Ya?” Kuberanikan menawarinya tempat tinggal. Daripada berdiri seperti tiang listrik. Toh, dia tak kelihatan orang. Ibu kontrakan tak akan protes aku bawa-bawa cewek cantik bukan muhrim ke kamar.

Tapi, hey, ayolah, aku bukannya mesum.  Maksudku, aku kasihan padanya. Daripada bicara sambil berdiri begini, lebih baik kuajak dia ke rumahku, bukan? Lagipula malaikat secantik dia mana mungkin naksir pemuda kurus kelas pekerja sepertiku.

Dua hari berlalu. Malaikat itu tak pernah mau masuk ke kamarku, melainkan hanya berdiri saja di depan pintu. Wajahnya datar, tapi begitu melihatku dia tersenyum ayu. Entah apa yang dia pikirkan, berulangkali kutawari masuk, atau minimal berdiam diri di tempat yang agak nyaman seperti ruang tamu—supaya bisa duduk. Tapi, sang malaikat bergeming saja. Ya sudah. Kubiarkan ia seperti itu.

Baru di hari ketiga, malaikat berada di dalam kamar. Aku terkejut sekali begitu membuka kunci dan mendapati sosoknya berada di sana. Berdiri dengan posisi biasa, menghadap ke arah pintu sehingga begitu aku masuk kamar dirinyalah yang pertama kudapati.

“Tahu, tidak? Tadi Gara bilang suka padaku. Ah, dia teman maya. Kami kenal hampir 5 tahun dari blog. Lihat ini,” ucapku pada malaikat sambil memperlihatkan sebuah kertas. “Surat pernyataan cinta. Dikirim 3 hari lalu. Haha! Benar-benar.” Kupegangi jantung ini dan mendapati detaknya semakin kencang.

Tak kuduga sang malaikat mendekat. Dia duduk bersimpuh tepat di depanku. Manik mata beningnya semakin kemilau ketika kuperhatikan dari dekat. Indah nyaris samudera malam. Sang malaikat tersenyum lalu menaruh perhatian pada surat yang kutunjukkan padanya.

“A-aku juga suka Gara. Tapi, kalau hubungan kami akan dibawa ‘kesana’ … hm … aku tahu akhirnya akan bagaimana.”

Malaikat menatapku seolah mencerna kata-kataku. Senyumnya menghilang berganti dengan wajah datar yang tetap ayu dipandang. Aku berpikir. Apakah ada hubungannya antara malaikat ini dengan Gara? Sepertinya terlalu absurd. Maksudku, malaikat ayu ini siapa? Apa ada takdir tertentu yang harus kujalani?

“Sudahlah. Besok kupikir-kipikir lagi mau balas surat Gara bagaimana. Temani aku ya,” ucapku lau berdiri dan membereskan kamar.

Hari ini aku mau mandi cepat lalu berbaring nyaman di kasur dengan buku-buku puisi cinta.

Malaikat turun dari langit. Kini ia bersamaku. Entah akan bertahan berapa lama. Dia masih sulit diajak bicara. Saat kucoba menyentuhnya, dia bereaksi dengan menghindari dan memasang wajah takut yang manis. Baik, itu pertanda yang jelas. Aku tak boleh sembarangan padanya.

Malaikat turun dari langit. Semua hal berjalan seperti biasa. Pekerjaan, keseharianku—tapi, kali ini aku tak pernah sembarangan telanjang dada sejak ada malaikat—bahkan hubunganku dengan Gara tak ada perubahan signifkan. Aku mengaku menyukainya. Kubalas surat dia dengan ungkapan yang bisa melambungkan dirinya seperti ia membuat jantungku bergemuruh. Tapi, kami lelaki dewasa yang tidak meluap-luap. Kami berjanji akan ketemu untuk bicara.

Malaikat turun dari langit. Gang yang biasa kulalui saat pulang kerja kini ditutup total. Tanah lapang itu mulai dibangun. Beberapa kali ada sekumpulan warga yang protes. Kulihat sempat ribut dan hampir bentrok. Kucing tetangga yang kuceritakan waktu itu mati. Pemiliknya sedih sekali. Dan aku juga bersedih karena dia, bagaimana pun adalah temanku.

Malaikat turun dari langit. Pagi-pagi benar aku berangkat ke kantor. Sepedaku sudah agak tak nyaman dipakai. Mungkin besok kuservis.

Malaikat turun dari langit. Aku suka Gara. (*)